Saturday, 17 March 2012

KM - ITB : Super



Sebagai seorang yang sering terlibat dalam lika - liku KM-ITB, saya sering kali memikirkan bagaimana seharusnya organisasi ini bergerak. Ketika ditunjuk sebagai seorang Ketua Tim Konseptor salah satu Calon Presma ITB ada beberapa hal yang saya utarakan lewat tulisan dan pemikiran seya mengenai apa yang harus KM-ITB ini miliki dalam pergerakannya.


EMPATI


Mahasiswa ITB memiliki peran dalam membangun tatanan masyarakat yang ideal di masa depan. Tatanan masyarakat ideal tersebut tertuang pada masyarakat yang madiri dan memiliki hak serta kelayakan dalam berkehidupan. Dengan demikian mahasiswa ITB haruslah memiliki sebuah kesadaran akan pentingnya peran dan tanggung jawab tersebut. Namun apakah mahasiswa sudah sadar dan terbangun kepekaannya terhadap fungsi dan tanggung jawab yang mereka emban. Dengan kondisi yang ada dan realita yang terjadi saat ini, virus – virus globalisasi, kapitalisme, dan kehidupan individualistic dengan persaingan yang sangat ketat memaksa masyarakat harus saling sikut untuk dapat menikmati kesejahteraan hidup.

Jika dilihat dari perkembangan kehidupan mahasiswa ITB yang mulai terfragmentasi dengan kehidupan bermasyarakat di sekitarnya, seakan terdapat batasan benteng dan dinding besar dan lupa akan keberadaannya, maka akan menjadi hal yang sangat penting untuk memahami kembali dimana mahasiswa ITB ini berdiri dan untuk apa mahasiswa ITB ini berada. Mahasiswa ITB bukan dibentuk untuk menjadi mesin yang dikhususkan pada pengembangan teknologi saja. Mahasiswa ITB tidak dibentuk hanya untuk jadi ilmuwan, pejabat, dan lain sebagainya, tanpa didasari kesadaran dalam hidup sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan ketika berbicara dimana nantinya mahasiswa ini akan berada dalam tatanan masyarakat, mahasiswa ini haruslah memahami bahwa dirinya harus menjadi “inisiator dan core” dalam pembangunan masyarakat menuju kemandirian dan kesejahteraan. Dengan demikian perlu ditanamkan kembali tujuan pendidikan  yang terejawantahkan dalam pembangunan karakter mahasiswa sehingga akan jelas terlihat bahwa pembentukan kesadaran ini haruslah dilakukan dalam keseharian dan aktivitas sehari – hari yang  bersentuhan dengan masyarakat.

Korelasi antara mahasiswa dengan kehidupan masyarakat tidaklah cukup hanya berupa kajian – kajian teoritis dan gerakan social politik yang dikumandangkan oleh para mahasiswa sejak dari dulu. Hal – hal tersebut memang penting namun untuk membentuk sebuah kesadaran dan insiatif dalam bergerak ke hal yang lebih besar seperti memahami social politik dan pengkritisan pemerintah, kepekaan ini perlulah dibangun terlebih dahulu. Caranya adalah dengan menanamkan dan menyisipkan suatu aktivitas yang bersentuhan dengan keberadaan masyarakat di sekitar. Framework  yang selama ini muncul dalam pemikiran mahasiswa – mahasiswa kebanyakan yang biasa turun dirasa sudah berjalan tidak terlalu efektif. Seperti kaitannya dengan mahasiswa ITB yang setiap bergerak secara “Sospol” tidaklah representative dan didukung oleh massa kampus nya. Sehingga tentu ada yang salah terhadap penggunaan metode yang terkesan melompat dan tidak dibangun secara baik dari segi pemahaman massa kampus di ITB ini. Artinya perlu pendekatan lain yang harus dieskalasi untuk dibangun di kemudian hari. Karena efek dari sebuah gerakan kemahasiswaan saat ini tidak lagi memikirkan bagaimana bentuk suatu tatanan Negara dan masyarakat saat ini, tetapi juga tatanan masyarakat dan Negara di kemudian hari.

Jika dilihat dari keberadaan reformasi dan nilai – nilai demokrasi yang dibentuk saat zaman 1998, tentu kita akan sedikit dibutakan oleh euphoria keberhasilan menggulingkan rezin orde baru yang sangat berkuasa. Namun jika kita lihat efek yang ditimbulkan, ternyata reformasi belumlah siap dalam membangun suatu regenerasi. Penyiapan pemimpin saat itu tidak didukung kemampuan masyarakat untuk siap berdemokrasi dan menemukan nilai kebebasan. Akhirnya semakin lama, mosi ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan pemerintah mucul kembali seperti zaman orde baru tersebut, dengan gerakan – gerakan demokrasi yang belum menemukan nilai kedewasaannya. Bentuk tatanan tersebut terus bertahan dan akhirnya justru memunculkan polemic dimana nilai demokrasi pun saat ini bisa dibeli dengan uang.

Dengan beberapa nilai yang kita lihat disana, maka penting untuk memikirkan bagaimana kita membentuk Indonesia ini di masa depan. Artinya perlu membentuk agen – agen yang siap untuk berkontribusi di tatanan Indonesia, minimal dengan suatu motivasi “Think Globally, Act Locally” terhadap masyarakat di sekitar kampus ITB ini. Pembangunan yang bersifat teknis dan eksekusi inilah yang harus dilakukan di dalam tatanan masyarakat local sebelum kita melangkah ke hal yang lebih luas. Namun bukan berarti kita melupakan nilai kita sebagai elemen masyarakat Indonesia. Tahap pembangunan empati pun perlu dieskalasi, namun tidak memaksa kita untuk berambisi dengan bukti nyata dalam membangun Indonesia. Semuanya dilakukan secara perlahan, dengan memfokuskan suatu bentuk eksekusi nyata ditatanan masyarakat local, sedangkan untuk urusan nasional, minimal tetap diadakan suatu brainstorming dan kajian yang membahas isu – isu eksternal tanpa dibatasi oleh lingkup keilmuan dan keprofesian masing – masing elemen yang ada dalam kemahasiswaan di kampus ini. Dan dengan KM-ITB sebagai wadahnya tentu kita dapat menyatukan pikiran dan kesepahaman untuk sama – sama memiliki motivasi dalam membangun kepekaan kita di masyarakat.

Kunci dari sebuah tatanan masyarakat Indonesia di masa depan adalah EMPATI. Karena dengan empati kita dapat mereduksi kesenjangan dan jurang perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Dengan empati kita tahu bagaimana harus bertindak, kita sadar apa yang harus kita perjuangkan, dan yang paling penting kita paham untuk apa kita bergerak. Empati ini menjadi satu hal pasti yang menjadikan setiap elemen masyarakat untuk memanfaatkan potensi yang dimilikinya dalam membangun sebuah pergerakan. Empati inilah yang nantinya harus dibangun dan dengan adanya kemudahan bahwa empati sangatlah fleksibel dan mampu dibangun dalam berbagai aspek tatanan kehidupan mulai dari politik, social, ekonomi, budaya, hokum, dan lain sebagainya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada saat ini.


PARTISIPASI

Sebuah cita – cita baik besar maupun kecil tidak akan terwujud tanpa adanya partisipasi dari setiap elemen suatu organisasi. Begitu juga cita – cita KM-ITB dalam mencapai tujuan pendidikannya yang diinterpretasikan oleh kita sebagai pembangunan Empati. Dengan memahami hal yang mungkin bisa kita anggap sebagai tantangan untuk merealisasikan cita – cita tersebut, artinya kita harus lebih memahami apa yang dibutuhkan oleh setiap elemen untuk mau terlibat dan berpartisipasi dalam membangun KM-ITB. Penyadaran hak dan kewajiban mungkin selalu menjadi solusi utama saat ini, namun hal tersebut tidaklah cukup. Untuk itu perlu dilakukan sebuah pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi dan bersifat doktrin yang secara tidak langsung dapat diterima oleh massa kampus. Pendekatan ini dapat berupa pendekatan secara structural maupun kultural. Secara structural lebih kepada bagaimana menerapkan strategi, struktur cabinet, dan program kerja. Sedangkan dari segi kultural bagaimana KM-ITB dengan cabinet sebagai corongnya, membentuk impresi serta pendekatan yang lebih intense, kekeluargaan, namun tetap tersistemkan.... (bersambung)







No comments:

Post a Comment

Kaderisasi KM-ITB

Ketika selesai menjalankan amanah sebagai Menteri Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) KM-ITB periode 2012-2013, saya sering mendapatk...