Tuesday, 4 March 2014

Lagu : Kisah Kampus Kita

Ciptaan : Rian Ardiansyah & Adrian Mangunsong


Intro:     E   C#m   A   B (2x)


E        B           C#m         B   A        E
ingatkah kawan saat kita duduk di tepi tangga

  A                           G#m
di samping gedung tua yang kokoh

 F#m                             C#m
berbagi mimpi tentang indahnya cinta

 B        A                     B           E
serta mimpi panjang tentang negeri ini


balik ke intro E  C#m  A  B (2x)


E       B    C#m      A                   E
sadari kawan jejak kita ini adalah tinta

A                               G#m
tertulis indah dan penuh warna

F#m                            C#m
jadi harapan ayah bunda tercinta

A                  B              E
dan jadi jawaban untuk bangsa ini

       


 A                      C#m
kini kita kemas kenangan

  F#                            B
bergegas mencipta mimpi-mimpi

G#m  A                            B
jangan hilangkan jejak, kita teman selamanya
                      
B                       C#m             A                       E
banyak kisah di tempat ini, kampus biru dan tawa lepas

B                     C#m              A                        E
banyak cinta di tempat ini, kampus indah dan derai tangis

B                      C#m             A                      E
banyak rasa di tempat ini, benci rindu bersatu padu

B                      C#m               A                      E
banyak senyum di tempat ini, teman sobat cinta menyatu

Monday, 29 July 2013

Terima Kasih KM-ITB

Pada bulan Agustus tahun 2008 di suatu Institut Teknologi, kata orang susah masuk dan keluarnya ini, telah berkumpul suatu kelompok berisikan siswa-siswi lulusan SMA berseragam putih abu-abu yang kebingungan dan tidak tahu menahu apa yang akan mereka lakukan nantinya sebagai mahasiswa. Mereka, yang notabene berasalkan dari seantero penjuru negeri ini, dipertemukan dalam satu kelompok bernamakan “Kelompok 72”. Alasan mereka hadir saat itu adalah untuk mengikuti kegiatan INKM 2008 dan konon katanya wajib untuk diikuti sebagai seorang mahasiswa baru. Dari beberapa mahasiswa baru ini, terdapat satu mahasiswa slengehan yang bertingkah sok kenal sok dekat dengan teman di dalam kelompoknya. Seperti yang sudah kita duga, mahasiswa itu adalah saya sendiri alias Adityo Sumaryadi. Seakan terpaksa mengikuti rangkaian kegiatan INKM 2008 di awal, namun justru dari momen-momen kegiatan inilah saya mulai “terjebak” dengan aktivitas sebagai mahasiswa yang mencintai kegiatan dan sepak terjang organisasinya. 

INKM 2008 menjadi gerbang pembuka keingintahuan saya tentang bagaimana dunia mahasiswa ini berjalan, serta mulai membayangkan apa yang bisa saya lakukan untuk merubah wajah negeri ini serta mengenalkan saya tentang keberadaan KM-ITB. Padahal sewaktu SMA saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia OSIS, hanya berkutat pada olahraga basket dan kenakalan remaja. Ketidaktertarikan saya sewaktu SMA dikarenakan wajah dari kegiatan OSIS yang terkesan eksklusif, monoton, dan terlihat “sok-sok an”. Beberapa hal tersebut memacu diri saya untuk membuktikan diri bahwa ketika nanti menjadi mahasiswa, saya akan bisa melebihi pemikiran-pemikiran mereka. Meskipun saat ini saya dianggap oleh lingkungan saya sebagai siswa yang slengehan, bodoh, dan bandel, namun saya yakin pada saat nanti menjadi mahasiswa, saya akan mampu berbicara mengenai permasalahan bangsa, bukan sekedar celotehan-celotehan mengenai kegiatan Pentas Seni di sekolah.

Semangat mencoba berbagai macam kegiatan mahasiswa didasarkan pada kegemaran saya mencari tantangan dan jati diri sebagai seorang individu. Hal ini mengantarkan saya pada dinamika organisasi dan kepanitiaan yang ditawarkan dalam kampus ini. Awalnya keinginan tersebut hanya didasarkan pada manfaat yang bisa saya dapat dan apresiasi yang bisa saya peroleh. Motivasi yang sifatnya egosentris ini seakan menjadi bahan bakar saya untuk selalu mencari tantangan baru dalam menapaki jenjang aktivitas kemahasiswaan. Kepercayaan dan prestasi yang saya dapat ketika memegang suatu kegiatan, kepanitiaan, maupun organisasi, semakin memunculkan ambisi dan kepercayaan diri yang begitu tinggi.  Mencari hal-hal yang bisa menjadi ajang pembuktian bahwa saya mampu dan suatu saat akan menjadi sang juara dimanapun saya berada. Ambisius sekali, namun lambat laun semua yang saya lakukan tersebut memberikan banyak pelajaran dan perubahan bagi diri saya. Pelajaran bagaimana menikmati setiap momentum aktivitas saya, pelajaran bagaimana menghargai waktu dan orang di sekitar kita. Sifat egosentris tersebut akhirnya malah berubah menjadi keinginan untuk menjadi bagian yang berarti bagi lingkungan saya.

Pada awalnya, bahan bakar yang menyala dalam hati dan pikiran ini membuat saya selalu tertantang untuk mencoba semua hal yang ditawarkan di dunia kemahasiswaan. Dimulai ketika saya menjadi staff di Kementerian PSDM. Kementerian ini menjadi tempat saya mulai mengerti lika-liku dunia mahasiswa. Kemudian saya pernah menjadi ketua kepanitiaan Sumpah Pemuda, menjadi Deputi Kajian dan Kurikulum di Kementerian PSDM, menjadi ketua pemilu HMP, menjadi komandan lapangan di MPAB HMP, dan menjadi Senator HMP. Di akhir masa bakti saya di dalam KM-ITB ini saya tuntaskan sebaga Menteri PSDM KM-ITB. Selain mengemban beberapa tanggung jawab dalam organisasi, saya juga aktif dalam berbagai macam kajian, kajian kebangsaan, aktivitas demo dan turun ke jalan, pengabdian masyarakat, hingga membantu korban bencana alam. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat, perspektif baru dalam berpikir, dan suatu pengalaman yang menjadi keping-keping pelengkap ilmu kehidupan di setiap jenjang tanggung jawab yang saya emban saat itu.

Saya banyak berorientasi pada diri sendiri dan mencari manfaat untuk diri sendiri, baik itu di Himpunan maupun di kemahasiswaan terpusat. Saya mencoba mencari cara bagaimana saya tetap bisa mendapatkan manfaat di kedua ranah tersebut meskipun waktu seakan tidak mengizinkan kita untuk membagi perhatian pada keduanya. Sifat idealis, frontal dan terbuka dalam memberikan gagasan serta argumen membuat saya banyak terlibat dalam konfrontasi-konfrontasi forum. Cap aktivis dan pasivis sempat tersemat dalam pikiran ini untuk menilai identitas setiap individu. Sifat keras dan ambisi yang terus menyala terkadang membuat saya selalu berusaha memaksakan kehendak agar lingkungan saya mengikuti tempo dan kesibukan seperti yang saya miliki. Saya selalu berusaha bersikap idealis dan menegaskan kepada lingkungan saya bahwa konsekuensi kita setelah memutuskan berorganisasi adalah mengabdi bagi organisasi tersebut, tanpa terkecuali. Pemikiran ini membuat saya menjadi kaku dan berpikiran sempit. Sering kali saya berpikir bahwa amanah dan tanggung jawab yang saya emban membuat saya kelelahan, egois, dan memaksakan orang-orang di sekitar saya untuk memahami hal tersebut. Hal ini membuat saya menjadi seseorang yang sering mengeluh dan tidak peka terhadap perasaan di sekitar saya. Membuat saya menjadi pribadi yang arogan dan berusaha menjadi yang paling hebat.

Hingga suatu ketika, jenjang sebagai seorang senator merubah perspektif saya dalam memaknai suatu kehidupan berkemahasiswaan. Tanggung jawab sebagai seorang senator banyak mengajarkan saya untuk belajar ikhlas, menikmati setiap langkah yang diambil, dan mengabdi untuk banyak orang. Ketika menjadi senator inilah perlahan cap aktivis dan pasivis yang saya sematkan pada individu berubah menjadi bagaimana caranya bisa lebih dekat dengan mereka dan tentunya membuat mereka tertarik dengan apa yang kita lakukan. Mencoba memposisikan diri menjadi mereka, memahami keluh kesah dan perasaan mereka. Penuh perjuangan, tapi sangat mengajarkan saya untuk terus tersenyum dan menjadikan segala hal nya menjadi sederhana serta menyenangkan. Jumlah kuantitas kerja sebagai seorang senator memang sangat melelahkan, tetapi melalui renungan yang panjang akhirnya saya mengerti bahwa apa yang saya lakukan saat ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada teman-teman dan adik-adik saya nantinya, agar terus mendapatkan manfaat seperti apa yang saya dapat saat ini. Apalagi jika dikaitkan dengan hal yang bisa kita lakukan untuk lingkungan dan bangsa ini. Saya rasa meskipun sangat kecil dan sedikit, saya bisa memberikan tenaga saya untuk membangun negeri ini lewat cara dan aktivitas saya. Saya cukup berubah sebagai individu, tidak lagi ambisius dalam mengejar berbagai macam target kehidupan, tetapi lebih memilih untuk menikmati setiap momennya dan menyadari perbedaan individu dalam memandang suatu hal. Membawa segalanya menjadi menyenangkan dan kembali menjadi Adityo yang slengehan tapi tetap berpikir.

Melalui pemikiran-pemikiran tersebut, saya mulai merasa bahwa KM-ITB ini telah memberikan banyak hal pada saya. Menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga dan terus membangunnya. Saya sempat menjadi ketua tim konseptor pemenangan Calon Presiden Ari Tim SUPER saat PEMIRA KM-ITB 2012 namun kami gagal menjadi pemenang. Saat itu sejujurnya saya sudah merasakan jenuh dan ingin beristirahat dari dunia organisasi mahasiswa. Tetapi, rasa terima kasih terhadap KM-ITB yang teramat dalam, akhirnya mengantarkan saya sekali lagi menyetujui untuk mengemban amanah menjadi Menteri PSDM KM-ITB ketika dibujuk oleh sang Presiden terpilih. Lewat Kementerian PSDM KM-ITB, saya sekali lagi memperoleh kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi kampus dan bangsa ini. Ruang lingkup kegiatan PSDM yang berkutat pada kegiatan kaderisasi membuat saya bisa berkontribusi bagi KM-ITB dan bangsa dalam membangun generasi masa depannya. Lewat keikhlasan dan pengabdian yang telah saya dapatkan, serta pelajaran kehidupan yang telah membangun mental saya sebagai seorang individu.




Saya sangat bersyukur di akhir perjalanan saya sebagai mahasiswa dalam KM-ITB, karena saya rasa hampir semua jenjang kemahasiswaan ini sudah pernah saya coba jalani. Saya pernah ada di tataran eksekutif dan legislatif, pernah ada di kepanitiaan dan himpunan. Kemudian saya juga bersyukur karena dapat mengenal banyak teman, memiliki sahabat yang baik, bisa tetap bermain basket di himpunan dan mengikuti kompetisi GBS. Lulus dengan predikat sangat memuaskan, serta masih bisa membangun idealisme saya di luar kampus. Bisa membagi waktu saya dengan baik dan tetap bisa menepati janji saya pada orang tua.

Saat ini saya sudah bekerja. Ilmu dan pengalaman saat saya berkemahasiswaan jauh lebih banyak saya gunakan untuk menghadapi masalah-masalah di dunia kerja. Saya banyak berhadapan dengan birokrasi pemerintah daerah, dinamika politik, kemudian kemandirian dalam bekerja dan langkah taktis dalam berpikir. Semua itu saya dapatkan dari dunia kemahasiswaan. Selain itu saya juga mendirikan sebuah LSM bernama Akarumput Indonesia yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat miskin. Selain untuk tetap berkontribusi terhadap bangsa ini, LSM ini selalu menjadi simbol pengingat saya dalam menjaga idealisme dari saat menjadi mahasiswa hingga suatu saat nanti. Akhir kata satu hal yang perlu saya ungkapkan untuk menutup semua cerita di atas, 

Terima Kasih KM-ITB.

Tuesday, 29 January 2013

Rindu


"Semilir angin, gemercik air, memecah lika-liku kelokan dalam menyusuri sunyi keheningan kelam. Menjanjikan satu sinar pemecah mimpi panjang..

...rindu...

..jikalau kata rindu tak cukup pantas memanifestasikan malam, kan kucipta hal yang jauh lebih dramatis untuk melukisnya...."



29 Januari 2013

Saturday, 8 September 2012

Role Model adalah Persepsi Lingkungan

"Role Model : 04 – Adityo Sumaryadi

JULI 8, 2012 BY AIMANTOHIR

Adityo Sumaryadi, Menteri PSDM Kabinet KM ITB 2012/2013. Menurut menteri yang kerap disapa Tio ini role model adalah seseorang yang pernah melakukan sesuatu, tahu apa yang ia lakukan, belajar dari apa yang pernah ia lakukan dan mendidik orang lain dari apa yang ia lakukan.

Siapapun penting untuk menjadi role model dengan cara mengambil hal-hal bermanfaat dari lingkungan kemudian menerapkan dalam kehidupan dan menularkannya kembali pada lingkungan sekitar.
Beliau menekankan seorang role model sebagai pendidik dan pembimbing yang baik, yang dapat dideskripsikan dengan kemampuan merasakan terebih dahulu, membagi apa yang diperoleh dan tidak menunggu waktu untuk membagi.
“Indonesia terlalu banyak quotes, sehingga Indonesia tidak banyak bergerak. Bangkit melawan atau tunduk ditindas, karena mundur adalah pengkhianatan” – Adityo Sumaryadi


-Kelompok 04 Caplok2012- "

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan di atas merupakan hasil wawancara salah satu kelompok calon panitia tata tertib di rangkaian kegiatan OSKM 2012. Mereka mewawancarai saya mengenai arti dari menjadi seorang role model. 


Sejujurnya saya agak malu diwawancara seperti itu. Selain karena saya merasa belum pantas menjadi role model, juga karena saya sendiri tidak tahu apa makna sesungguhnya dari seorang role model.

Bagi saya role model adalah ketidaksengajaan seseorang untuk menjadi panutan, karena pada dasarnya setiap apa yang kita lakukan pasti akan memunculkan persepsi dan tanggapan dari lingkungan kita. Ketika kita memiliki niat untuk menjadi seorang role model atau ketika kita sadar menjadi seorang role model, maka ketika itu kita bisa kehilangan diri kita yang sesungguhnya. Hal yang paling rentan hilang adalah niat tulus dalam berbuat. Sebetulnya dengan menjadi seorang individu yang memang memiliki niat tulus dalam bekerja, tidak pamrih, tidak memiliki tujuan apa-apa selain memberi manfaat pada sekitar, secara tidak sengaja akan memberikan buah inspirasi bagi yang lain. Menurut saya itulah wujud dari seorang role model yang sesungguhnya, bukan buah pencitraan maupun kondisi yang disengaja maupun settingan semata.

Jika coba ditelisik lebih dalam, saya sampai pada kesimpulan bahwa kita sendirilah yang menentukan seperti apa role model yang ingin kita visualisasikan menjadi bentuk nyata dalam diri kita. Role model bukan cuma menjadi cita-cita atau sekedar menginspirasi orang lain, tetapi bentuk pengejawantahan dari diri kita dalam semesta.

Apapun itu, role model adalah sebuah tanggung jawab yang sangat berat untuk diemban.

Saturday, 17 March 2012

Belajar dari Dominasi

Jika muak akan dominasi, pikirkanlah. Jika kesal, lakukanlah. Jika lelah, berjuanglah. Jika putus asa, keras hatilah. Dominasi tak akan mudah runtuh. Sekali, dua kali, tiga.. empat.. sembilan puluh sembilan, teruskan! 

Jika berpikir, berlaku, berjuang, dan berkeras hati sudah kau lakukan..
Renungkanlah..

"Sudah belajar apa kau selama ini?"

17 Maret 2012



Kaderisasi KM-ITB

Ketika selesai menjalankan amanah sebagai Menteri Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) KM-ITB periode 2012-2013, saya sering mendapatk...