Thursday, 6 March 2014

Ekowisata

Indonesia merupakan negara dengan berjuta potensi dan keindahan alam. Kekayaan alam yang dimiliki meliputi keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi telah menjadikan negeri ini sebagai destinasi wisata yang menawarkan banyak jenis pariwisata. Selain jenis-jenis wisata yang didasarkan pada kekayaan alam, bumi nusantara ini juga menawarkan produk peradaban dari masyarakatnya berupa ragam budaya, dinamisasi pola kehidupan sosial dan cara berinteraksi satu sama lain. Hal-hal tersebut semakin memperkaya jenis pariwisata yang dimiliki oleh negeri ini. Seiring perkembangan zaman dan pemikiran, pemahaman mengenai pariwisata ikut berkembang dewasa ini. Perkembangan ini dipengaruhi oleh makna dari pariwisata itu sendiri yang terus berkembang dan mulai dipahami sebagai suatu lingkup multidimensi dan sangat terkait dengan latar belakang dari individu atau kelompok yang memaknainya. Keberadaan pariwisata yang multidimensi tadi akhirnya mebuat pariwisata dapat didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari perkembangan zaman yang ada saat ini, lingkup aspek seperti pariwisata dilihat dari sudut bisnis, industri, akademis, spasial, dan lain sebagainya.

Pariwisata yang memiliki pemahaman secara meluas, cenderung membentuk suatu sistem yang mengaitkan komponen-komponen satu sama lain menjadi satu sistem pariwisata. Seperti yang dikemukakan oleh Jordan, 2004  bahwa sistem Pariwisata adalah tatanan komponen dalam industri pariwisata dimana masing-masing komponen saling berhubungan dan membentuk sesuatu yang bersifat menyeluruh. Kemudian dikemukakan bahwa sistem pariwisata adalah hubungan antara penawaran (supply) dan permintaan (demand). Penduduk yang berkeinginan dan berkemampuan untuk mengadakan perjalanan, atau dengan kata lain wisatawan, sebagai permintaan, dan dari segi penawaran adalah berbagai jenis moda transportasi, atraksi wisata, fasilitas dan pelayanan  jasa bagi wisata dan juga penyediaan informasi dan promosi wisata.

Pariwisata sebagai sebuah hasil pengelolaan aspek-aspek di dalamnya meliputi alam, manusia, dan integrasi keduanya memunculkan satu opini mengenai bentuk pengelolaan pariwisata yang baik dan berkelanjutan. Pemahaman ini mengedepankan nilai-nilai konservasi dalam mempertahankan kemurnian alam serta budaya masyarakat di dalamnya, termasuk integrasi antara keduanya. Konsep pariwisata yang berkembang tersebut berorientasi pada pemeliharaan kelestarian lingkungan dan mempertahankan budaya dari masyarakat setempat. Konsep ini biasa dikenal dengan sebutan ekowisata (ecotourism).

Ekowisata
Konsep ekowisata terkait erat dengan pariwisata berkelanjutan, yang memilki kriteria konservasi, edukasi, dan sustainability dengan berbagai komponen di dalamnya. Rumusan Ekowisata pertama kali ditemukan oleh Hector Ceballos-Lascurai pada tahun 1987 yaitu sebagai berikut:

”Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the spesific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plants and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”

wisataindonesia.biz
Masyarakat Ekowisata Internasional (TIES,2000) mengartikan ekowisata sebagai suatu perjalanan wisata alam yang bertanggung jawab dengan cara mengkonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Sedangkan Janianton dan Helmut (2006) menyatakan bahwa ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengadopsi prinsip-pinsip pariwisata berkelanjutan. Dari berbagai definisi tersebut terdapat tiga perspektif utama dalam melihat ekowisata, yaitu ekowisata sebagai produk, ekowisata sebagai pasar, dan ekowisata sebagai pendekatan pengembangan. Ekowisata sebagai produk merupakan semua atraksi yang berbasis pada sumberdaya alam. Ekowisata sebagai pasar merupakan perjalanan yang diarahkan pada upaya-upaya pelestarian lingkungan. Ekowisata sebagai pendekatan pengembangan merupakan metode pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya pariwisata secara ramah lingkungan. Artinya, kegiatan ekowisata ini menekankan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan yang menjadi ciri khas dari ekowisata. Pihak yang terlibat dalam kegiatan ekowisata bukan hanya wisatawan dan masyarakat lokal, tetapi juga industri, pemerintah, maupun lembaga-lembaga lainnya yang memiliki kepentingan terhadap kegiatan ekowisata. Dapat disimpulkan bahwa ekowisata merupakan bentuk industri pariwisata berbasis lingkungan yang memberikan dampak kecil bagi kerusakan alam dan budaya lokal sekaligus menciptakan peluang kerja dan pendapatan serta membantu kegiatan konservasi alam itu sendiri (Panos, dikutip oleh Ward, 1997).

Penerapan Konsep Ekowisata
Indonesia memiliki berbagai macam pariwisata yang menerapkan konsep ekowisata, seiring dengan banyaknya kekayaan alam, dan ragam budaya yang dimiliki. Artinya banyaknya jenis ekowisata ini tentu memunculkan suatu tanggung jawab lebih bagi para penikmat jasa pariwisata tersebut. Beberapa contoh jenis ekowisata yang sering dijumpai adalah taman nasional dan kebun raya. Taman nasional maupun kebun raya pada awalnya ditujukan untuk kegiatan konservasi, laboratorium alam, dan penelitian. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang berpengaruh pada selera masyarakat dan pola pikir yang terbentuk, pada akhirnya kedua hal tersebut menjadi satu peluang dalam memperkaya jenis-jenis pariwisata yang dapat ditawarkan. Keindahan alam yang memanjakan serta ikut merasakan pola kehidupan masyarakat lokal sehari-hari tentu akan menjadi suatu pengalaman yang mengasyikkan.


http://abahmandar.blogspot.com/2013/05/kenapa-harus-ekowisata.html
Dikutip dari Jurnal pengejar primata, taman nasional maupun kebun raya saat ini dibuka untuk umum bagi kepentingan edukasi. Berdasarkan informasi  Dari Sabang hingga Merauke, terdapat 50 taman nasional dan kebun raya. TN (Taman Nasional) Lorentz di Irian Jaya berpredikat World Heritage Park, sedangkan TN Ujung Kulon telah menjadi World Heritage Site. Contoh lain dari konsep ekowisata yang biasa diterapkan di Indonesia adalah konsep wisata bahari yang menawarkan rekreasi pesisir pantai sekaligus keindahan bawah laut Indonesia yang memang terkenal akan warna-warni jenis biota lautnya.

Kampung Naga
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Kampung ini secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Mereka menolak campur tangan masyarakat luar terutama yang mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Pernah suatu ketika muncul kabar mengenai penutupan lokasi Kampung Naga untuk masyarakat umum. Alasannya adalah masyarakat lokal tidak ingin tempat tinggalnya dijadikan desa wisata, sehingga pihak-pihak luar dapat bebas keluar masuk serta menyebarkan pengaruh-pengaruh buruk bagi kampung mereka.

http://www.kalangsunda.net/kampungnaga.htm
Penduduk Kampung Naga semuanya mengaku beragama Islam, namun mereka juga taat memegang adat-istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya. Artinya, walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, syariat Islam yang mereka jalankan agak berbeda dengan pemeluk agama Islam lainnya. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, dan hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Konsep wisata yang terlihat dari Kampung Naga ini terletak pada pelestarian adat-istiadat dan pola interaksi masyarakat di dalamnya. Tergambarkan dengan jelas melalui bentuk tatanan sosial serta kepercayaan pada nilai-nilai leluhur dan turun-temurun. Selain dilihat dari pola interaksi antar sesama manusia, juga dapat dilihat dari pola interaksi yang terjadi antara masyarakat lokal dengan alam yang terlihat bersinergi, saling menjaga, dan saling bergantung satu sama lain. Satu hal yang menarik adalah jika diamati lebih jauh, suatu sekat dan batas tercipta secara tidak sengaja melalui sikap dan prinsip masyarakat terhadap pengaruh luar yang terjadi. Kebiasaan, budaya, dan kepercayaan mereka terhadap nilai-nilai leluhur membentuk suatu tameng bagi intervensi-intervensi masyarakat luar/asing yang ingin membawa pengaruh bagi pola kehidupan masyarakat lokal. Artinya konsep ekowisata ini menjadi satu hal yang tercipta secara otomatis dibenak para wisatawan ketika mengunjungi Kampung Naga ini. Segala peraturan, adat, dan budaya tersebut mengharuskan para wisatawan untuk menghargai apa yang sudah tercipta serta tidak merusak roda kehidupan masyarakat setempat.

Kawasan Wisata Kabupaten Merangin
Di Provinsi Jambi juga memiliki sebuah kawasan yang sangat berpotensi menjadi kawasan wisata unggulan, yaitu kawasan wisata di Kabupaten Merangin. Kabupaten ini memiliki banyak potensi dengan beragam obyek wisata alam dan budaya yang menarik serta bisa diandalkan untuk dikembangkan sebagai ekowisata. Beberapa obyek wisata yang dapat dijadikan unggulan seperti Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Wisata arung jeram dengan menelusuri sungai Merangin yang penuh resiko dan tantangan merupakan daya tarik tersendiri dimana setiap tahunnya dilaksanakan event nasional dan internasional yang bertepatan pada bulan Juli dan Agustus. Kemudian terdapat kebudayaan unik Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang masih primitif dan hidup di hutan belantara Merangin, Goa Sengayau dengan panorama stalagtitnya yang menarik, sumber air panas Grao, Danau Pauh dan Depati masih asri dan alami.

http://roni-bae.blogspot.com/2011/10/rony-zone-objek-wisata-di-kabupaten.html
Konsep ekowisata yang teraplikasikan disini adalah keberadaan-keberadaan obyek wisata alam dan budaya sebagai atraksi wisata yang dikelola menjadi sarana rekreasi serta edukasi bagi para penikmat pariwisata. Konsep ekowisata tersebut terdiri dari atraksi wisata yang ditawarkan melalui wisata alam hutan, arung jeram, kemudian sarana edukasi yang diberikan melalui pengalaman dan nilai budaya baik dari Suku Anak Dalam dan Suku Kubu. Atraksi wisata tersebut jika ditinjau dari sisi pemberdayaan masyarakat lokal dan pengaplikasian nilai-nilai partisipatif terwujud melalui pengikutsertaan masyarakat lokal dalam bekerja dan mengelola keberadaan atraksi-atraksi wisata tersebut. Selain itu, keberadaan atraksi wisata tersebut memunculkan nilai ekonomi berupa kegiatan ekonomi kecil/lokal terutama kaitannya dengan penjualan produk-produk lokal.

Sesuai dengan pemahaman umum mengenai ekowisata, bahwa ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, melainkan hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik, dan psikologis wisatawan. Bahkan dalam berbagai aspek, ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Ekowisata bukan menjual destinasi tetapi menjual filosofi. Pemahaman tersebut ibarat memunculkan suatu daya tarik wisata ke dalam satu paket yang utuh dan saling berkesinambungan. Tanggung jawab kita semua untuk terus menjaga kelestarian mereka dan mulai menghargai nilai-nilai kearifan lokal di masyarakat sebagai identitas keanekaragaman kekayaan negeri ini.

Referensi :
Pamungkas, Gilang. 2012. Kapasitas Jejaring Stakeholder Dalam Pengelolaan Ekowisata (Studi Kasus: Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Bandung: Institut Teknologi Bandung
Sumaryadi, Adityo. 2013. Identifikasi Kesesuaian Rencana Pengembangan Pariwisata Kawasan Kaki Jembatan Suramadu dengan Persepsi dan Preferensi Wisatawan. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Agusmanto. 2004. Pengembangan Ekowisata Alam dan Budaya di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Semarang: Universitas Diponegoro
http://abahmandar.blogspot.com/2013/05/kenapa-harus-ekowisata.html
http://www.kalangsunda.net/kampungnaga.htm

http://roni-bae.blogspot.com/2011/10/rony-zone-objek-wisata-di-kabupaten.html

Tuesday, 4 March 2014

Paper : Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Pertambangan


 
oleh Adityo Sumaryadi
dalam Majalah Bulanan Pertamina Field Jambi


Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan salah satu komponen dalam membentuk struktur perkotaan. RTH ini memiliki pengertian sebagai bagian dari ruang-ruang terbuka (open space) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemic, introduksi) guna mendukung manfaat langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan. Berdasarkan jenisnya, RTH dapat diklasifikasikan menjadi RTH alami (habitat alami, kawasan lindung) dan RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olah raga, pemakaman). Sedangkan berdasarkan status kepemilikan RTH diklasifikasikan menjadi RTH publik (lahan publik atau lahan milik pemerintah) dan RTH privat (lahan milik pribadi).

RTH, baik RTH publik maupun RTH privat, memiliki fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota. RTH terdiri dari beberapa jenis vegetasi yang disesuaikan dengan lokasi dan peruntukkannya, misalnya jenis vegetasi antara wilayah pusat kota dengan daerah pesisir akan berbeda. Proporsi 30% luasan ruang terbuka hijau kota merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota (Hakim,2004).


Taman Prestasi Surabaya, 2012
Berdasarkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesburg, Afrika Selatan 10 tahun kemudian (2002), telah disepakati bersama bahwa sebuah kota idealnya memiliki luas RTH minimal 30 persen dari total luas kota dimana proporsi ruang terbuka hijau yang sesuai adalah sebesar 30% dari keseluruhan luas lahan yang komposisinya terbagi atas 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% ruang terbuka hijau privat. Ruang terbuka hijau pada suatu kota harus memenuhi luasan minimal ruang terbuka hijau sehingga dapat memenuhi fungsi dan memberikan manfaatnya dalam suatu kawasan kota dimana penyelenggaraan ruang terbuka hijau kota menurut Purnomohadi (2006).

Penerapan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Pertambangan
Penerapan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari keberadaan ruang-ruang terbuka seperti taman dan area-area hijau lainnya. Keberadaan RTH ini tentu memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam kelangsungan proses perkembangan kota serta keberlanjutan lingkungan di dalamnya. Selain itu, RTH tersebut dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kelangsungan hidup dan aktivitas masyarakat di dalamnya. Sesuai dengan syarat proporsi minimal RTH yang harus dikembangkan di suatu wilayah perkotaan, setiap pihak baik instansi pemerintah, swasta, maupun masyarakat individu, seluruhnya dapat berkontribusi. Begitu juga sektor-sektor yang terkait, salah satunya adalah pihak yang bergerak di bidang energi/pertambangan.

Sektor pertambangan khususnya migas secara teoritis dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi keberadaan RTH. Wilayah sektor migas tersebut dapat diterjemahkan sebagi kawasan pertambangan dimana setiap aktivitasnya memiliki keekslusifan dalam pengelolaan wilayahnya. Keberadaan kawasan pertambangan memiliki kebutuhan wilayah yang cukup luas, memiliki kriteria dan standar tertentu terutama bagi keamanan dan keselamatan pelaksanaan kegiatan, sehingga hal ini akan menjadi sebuah potensi dalam merealisasikan keberadaan RTH yang berkontribusi bagi pengembangan perkotaan. Potensi ini tidak dapat dioptimalkan jika tidak ada perencanaan yang baik dan pengelolaan yang terstruktur. Perlu sebuah penataan bagi kawasan pertambangan yang terencana dengan baik dan menjadikan pembuatan RTH sebagai sebuah kebutuhan dalam setiap aktivitas pengembangan lahan baik pemboran  maupun kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh pihak yang berkepentingan.

Konsep Penghijauan Kawasan Pertambangan, 2013
Perencanaan RTH dalam kawasan pertambangan  dapat diejawantahkan misalnya di setiap aktivitas pemboran lokasi baru. Lahan yang digunakan pasca pemboran cukuplah luas, sehingga dapat direncanakan suatu konsep RTH yang secara langsung mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkotaan. Contohnya adalah dengan membuat satu konsep zonasi di lokasi pemboran yaitu membatasi antara lokasi pemboran dengan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi tersebut. Memberikan suatu buffer zone berupa pohon yang mengelilingi lokasi khususnya fasilitas utama di lokasi (misalnya wilayah pompa) dengan jarak yang sesuai standar keamanan dan keselamatan.  Begitu juga dengan kegiatan lainnya di dalam kawasan yang berupa komplek perkantoran maupun perumahan. Dapat dibuat suatu konsep perencanaan RTH yang baik dan menarik, misalnya saja taman bermain atau lapangan.

Dalam mengaplikasikan konsep RTH di kawasan pertambangan tentunya bukan hanya menjadi tanggung jawab bagi pihak yang bergerak di sektor tersebut (pengelola kawasan pertambangan). Hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, khususnya pihak-pihak yang terkait utamanya adalah Pemerintah di daerah. Pemerintah daerah harus mampu menjadi inisiator dan koordinator dalam menerapkan konsep RTH ini, apalagi melihat potensi yang dimiliki oleh kawasan pertambangan. Pemerintah harus mampu memberikan pemahaman pentingnya RTH ini, kemudian bekerja sama dengan pihak pelaksana kawasan pertambangan tersebut dan memfasilitasi realisasi kegiatan RTH di sana, khususnya yang kaitannya dengan pemahaman pentingnya RTH ini kepada pihak pengelola kawasan dan hubungannya dengan masyarakat di sekitar kegiatan pertambangan tersebut. Sinergisasi antara pemerintah daerah dan pengelola kawasan pertambangan akan menghasilkan suatu konsep perencanaan RTH yang mumpuni khususnya bagi aspek keselamatan dan keamanan masyarakat di sekitar aktivitas pertambangan tersebut. 


Konsep Penghijauan Kawasan Pertambangan, 2013
Selain itu manfaat yang akan didapat adalah paradigm postif yang diterima oleh pihak pengelola kawasan pertambangan berupa nilai pengembangan kawasan yang estetis, bersahabat dengan lingkungan dan peduli terhadap alam. Hal ini tentunya dapat mereduksi paradigma negatif yang diterima sebagai satu sektor yang mengeksploitasi alam dan tidak ramah terhadap lingkungan. Selain manfaat bagi pihak pengelola kawasan pertambangan, pemerintah daerah pun akan mendapatkan suatu prestasi apabila dapat memenuhi kriteria dan proporsi minimal keberadaan RTH di wilayah perkotaan. Pada akhirnya akan terjalin suatu simbiosis mutualisme diantara pihak-pihak terkait dan dampaknya adalah kehidupan masyarakat yang lebih sehat dan dekat dengan lingkungan.

Referensi :
Gemilang, Dirsthasia P. 2012. Konsep Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Pusat Kota Ponorogo. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Makalah Lokakarya PENGEMBANGAN SISTEM RTH DI PERKOTAAN Dalam rangkaian acara Hari Bakti Pekerjaan Umum ke 60Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum

Studi Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kenali Asam LPPM-ITB





Lagu : Kisah Kampus Kita

Ciptaan : Rian Ardiansyah & Adrian Mangunsong


Intro:     E   C#m   A   B (2x)


E        B           C#m         B   A        E
ingatkah kawan saat kita duduk di tepi tangga

  A                           G#m
di samping gedung tua yang kokoh

 F#m                             C#m
berbagi mimpi tentang indahnya cinta

 B        A                     B           E
serta mimpi panjang tentang negeri ini


balik ke intro E  C#m  A  B (2x)


E       B    C#m      A                   E
sadari kawan jejak kita ini adalah tinta

A                               G#m
tertulis indah dan penuh warna

F#m                            C#m
jadi harapan ayah bunda tercinta

A                  B              E
dan jadi jawaban untuk bangsa ini

       


 A                      C#m
kini kita kemas kenangan

  F#                            B
bergegas mencipta mimpi-mimpi

G#m  A                            B
jangan hilangkan jejak, kita teman selamanya
                      
B                       C#m             A                       E
banyak kisah di tempat ini, kampus biru dan tawa lepas

B                     C#m              A                        E
banyak cinta di tempat ini, kampus indah dan derai tangis

B                      C#m             A                      E
banyak rasa di tempat ini, benci rindu bersatu padu

B                      C#m               A                      E
banyak senyum di tempat ini, teman sobat cinta menyatu

Monday, 29 July 2013

Terima Kasih KM-ITB

Pada bulan Agustus tahun 2008 di suatu Institut Teknologi, kata orang susah masuk dan keluarnya ini, telah berkumpul suatu kelompok berisikan siswa-siswi lulusan SMA berseragam putih abu-abu yang kebingungan dan tidak tahu menahu apa yang akan mereka lakukan nantinya sebagai mahasiswa. Mereka, yang notabene berasalkan dari seantero penjuru negeri ini, dipertemukan dalam satu kelompok bernamakan “Kelompok 72”. Alasan mereka hadir saat itu adalah untuk mengikuti kegiatan INKM 2008 dan konon katanya wajib untuk diikuti sebagai seorang mahasiswa baru. Dari beberapa mahasiswa baru ini, terdapat satu mahasiswa slengehan yang bertingkah sok kenal sok dekat dengan teman di dalam kelompoknya. Seperti yang sudah kita duga, mahasiswa itu adalah saya sendiri alias Adityo Sumaryadi. Seakan terpaksa mengikuti rangkaian kegiatan INKM 2008 di awal, namun justru dari momen-momen kegiatan inilah saya mulai “terjebak” dengan aktivitas sebagai mahasiswa yang mencintai kegiatan dan sepak terjang organisasinya. 

INKM 2008 menjadi gerbang pembuka keingintahuan saya tentang bagaimana dunia mahasiswa ini berjalan, serta mulai membayangkan apa yang bisa saya lakukan untuk merubah wajah negeri ini serta mengenalkan saya tentang keberadaan KM-ITB. Padahal sewaktu SMA saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia OSIS, hanya berkutat pada olahraga basket dan kenakalan remaja. Ketidaktertarikan saya sewaktu SMA dikarenakan wajah dari kegiatan OSIS yang terkesan eksklusif, monoton, dan terlihat “sok-sok an”. Beberapa hal tersebut memacu diri saya untuk membuktikan diri bahwa ketika nanti menjadi mahasiswa, saya akan bisa melebihi pemikiran-pemikiran mereka. Meskipun saat ini saya dianggap oleh lingkungan saya sebagai siswa yang slengehan, bodoh, dan bandel, namun saya yakin pada saat nanti menjadi mahasiswa, saya akan mampu berbicara mengenai permasalahan bangsa, bukan sekedar celotehan-celotehan mengenai kegiatan Pentas Seni di sekolah.

Semangat mencoba berbagai macam kegiatan mahasiswa didasarkan pada kegemaran saya mencari tantangan dan jati diri sebagai seorang individu. Hal ini mengantarkan saya pada dinamika organisasi dan kepanitiaan yang ditawarkan dalam kampus ini. Awalnya keinginan tersebut hanya didasarkan pada manfaat yang bisa saya dapat dan apresiasi yang bisa saya peroleh. Motivasi yang sifatnya egosentris ini seakan menjadi bahan bakar saya untuk selalu mencari tantangan baru dalam menapaki jenjang aktivitas kemahasiswaan. Kepercayaan dan prestasi yang saya dapat ketika memegang suatu kegiatan, kepanitiaan, maupun organisasi, semakin memunculkan ambisi dan kepercayaan diri yang begitu tinggi.  Mencari hal-hal yang bisa menjadi ajang pembuktian bahwa saya mampu dan suatu saat akan menjadi sang juara dimanapun saya berada. Ambisius sekali, namun lambat laun semua yang saya lakukan tersebut memberikan banyak pelajaran dan perubahan bagi diri saya. Pelajaran bagaimana menikmati setiap momentum aktivitas saya, pelajaran bagaimana menghargai waktu dan orang di sekitar kita. Sifat egosentris tersebut akhirnya malah berubah menjadi keinginan untuk menjadi bagian yang berarti bagi lingkungan saya.

Pada awalnya, bahan bakar yang menyala dalam hati dan pikiran ini membuat saya selalu tertantang untuk mencoba semua hal yang ditawarkan di dunia kemahasiswaan. Dimulai ketika saya menjadi staff di Kementerian PSDM. Kementerian ini menjadi tempat saya mulai mengerti lika-liku dunia mahasiswa. Kemudian saya pernah menjadi ketua kepanitiaan Sumpah Pemuda, menjadi Deputi Kajian dan Kurikulum di Kementerian PSDM, menjadi ketua pemilu HMP, menjadi komandan lapangan di MPAB HMP, dan menjadi Senator HMP. Di akhir masa bakti saya di dalam KM-ITB ini saya tuntaskan sebaga Menteri PSDM KM-ITB. Selain mengemban beberapa tanggung jawab dalam organisasi, saya juga aktif dalam berbagai macam kajian, kajian kebangsaan, aktivitas demo dan turun ke jalan, pengabdian masyarakat, hingga membantu korban bencana alam. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat, perspektif baru dalam berpikir, dan suatu pengalaman yang menjadi keping-keping pelengkap ilmu kehidupan di setiap jenjang tanggung jawab yang saya emban saat itu.

Saya banyak berorientasi pada diri sendiri dan mencari manfaat untuk diri sendiri, baik itu di Himpunan maupun di kemahasiswaan terpusat. Saya mencoba mencari cara bagaimana saya tetap bisa mendapatkan manfaat di kedua ranah tersebut meskipun waktu seakan tidak mengizinkan kita untuk membagi perhatian pada keduanya. Sifat idealis, frontal dan terbuka dalam memberikan gagasan serta argumen membuat saya banyak terlibat dalam konfrontasi-konfrontasi forum. Cap aktivis dan pasivis sempat tersemat dalam pikiran ini untuk menilai identitas setiap individu. Sifat keras dan ambisi yang terus menyala terkadang membuat saya selalu berusaha memaksakan kehendak agar lingkungan saya mengikuti tempo dan kesibukan seperti yang saya miliki. Saya selalu berusaha bersikap idealis dan menegaskan kepada lingkungan saya bahwa konsekuensi kita setelah memutuskan berorganisasi adalah mengabdi bagi organisasi tersebut, tanpa terkecuali. Pemikiran ini membuat saya menjadi kaku dan berpikiran sempit. Sering kali saya berpikir bahwa amanah dan tanggung jawab yang saya emban membuat saya kelelahan, egois, dan memaksakan orang-orang di sekitar saya untuk memahami hal tersebut. Hal ini membuat saya menjadi seseorang yang sering mengeluh dan tidak peka terhadap perasaan di sekitar saya. Membuat saya menjadi pribadi yang arogan dan berusaha menjadi yang paling hebat.

Hingga suatu ketika, jenjang sebagai seorang senator merubah perspektif saya dalam memaknai suatu kehidupan berkemahasiswaan. Tanggung jawab sebagai seorang senator banyak mengajarkan saya untuk belajar ikhlas, menikmati setiap langkah yang diambil, dan mengabdi untuk banyak orang. Ketika menjadi senator inilah perlahan cap aktivis dan pasivis yang saya sematkan pada individu berubah menjadi bagaimana caranya bisa lebih dekat dengan mereka dan tentunya membuat mereka tertarik dengan apa yang kita lakukan. Mencoba memposisikan diri menjadi mereka, memahami keluh kesah dan perasaan mereka. Penuh perjuangan, tapi sangat mengajarkan saya untuk terus tersenyum dan menjadikan segala hal nya menjadi sederhana serta menyenangkan. Jumlah kuantitas kerja sebagai seorang senator memang sangat melelahkan, tetapi melalui renungan yang panjang akhirnya saya mengerti bahwa apa yang saya lakukan saat ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada teman-teman dan adik-adik saya nantinya, agar terus mendapatkan manfaat seperti apa yang saya dapat saat ini. Apalagi jika dikaitkan dengan hal yang bisa kita lakukan untuk lingkungan dan bangsa ini. Saya rasa meskipun sangat kecil dan sedikit, saya bisa memberikan tenaga saya untuk membangun negeri ini lewat cara dan aktivitas saya. Saya cukup berubah sebagai individu, tidak lagi ambisius dalam mengejar berbagai macam target kehidupan, tetapi lebih memilih untuk menikmati setiap momennya dan menyadari perbedaan individu dalam memandang suatu hal. Membawa segalanya menjadi menyenangkan dan kembali menjadi Adityo yang slengehan tapi tetap berpikir.

Melalui pemikiran-pemikiran tersebut, saya mulai merasa bahwa KM-ITB ini telah memberikan banyak hal pada saya. Menjadi tanggung jawab saya untuk menjaga dan terus membangunnya. Saya sempat menjadi ketua tim konseptor pemenangan Calon Presiden Ari Tim SUPER saat PEMIRA KM-ITB 2012 namun kami gagal menjadi pemenang. Saat itu sejujurnya saya sudah merasakan jenuh dan ingin beristirahat dari dunia organisasi mahasiswa. Tetapi, rasa terima kasih terhadap KM-ITB yang teramat dalam, akhirnya mengantarkan saya sekali lagi menyetujui untuk mengemban amanah menjadi Menteri PSDM KM-ITB ketika dibujuk oleh sang Presiden terpilih. Lewat Kementerian PSDM KM-ITB, saya sekali lagi memperoleh kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi kampus dan bangsa ini. Ruang lingkup kegiatan PSDM yang berkutat pada kegiatan kaderisasi membuat saya bisa berkontribusi bagi KM-ITB dan bangsa dalam membangun generasi masa depannya. Lewat keikhlasan dan pengabdian yang telah saya dapatkan, serta pelajaran kehidupan yang telah membangun mental saya sebagai seorang individu.




Saya sangat bersyukur di akhir perjalanan saya sebagai mahasiswa dalam KM-ITB, karena saya rasa hampir semua jenjang kemahasiswaan ini sudah pernah saya coba jalani. Saya pernah ada di tataran eksekutif dan legislatif, pernah ada di kepanitiaan dan himpunan. Kemudian saya juga bersyukur karena dapat mengenal banyak teman, memiliki sahabat yang baik, bisa tetap bermain basket di himpunan dan mengikuti kompetisi GBS. Lulus dengan predikat sangat memuaskan, serta masih bisa membangun idealisme saya di luar kampus. Bisa membagi waktu saya dengan baik dan tetap bisa menepati janji saya pada orang tua.

Saat ini saya sudah bekerja. Ilmu dan pengalaman saat saya berkemahasiswaan jauh lebih banyak saya gunakan untuk menghadapi masalah-masalah di dunia kerja. Saya banyak berhadapan dengan birokrasi pemerintah daerah, dinamika politik, kemudian kemandirian dalam bekerja dan langkah taktis dalam berpikir. Semua itu saya dapatkan dari dunia kemahasiswaan. Selain itu saya juga mendirikan sebuah LSM bernama Akarumput Indonesia yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat miskin. Selain untuk tetap berkontribusi terhadap bangsa ini, LSM ini selalu menjadi simbol pengingat saya dalam menjaga idealisme dari saat menjadi mahasiswa hingga suatu saat nanti. Akhir kata satu hal yang perlu saya ungkapkan untuk menutup semua cerita di atas, 

Terima Kasih KM-ITB.

Tuesday, 29 January 2013

Rindu


"Semilir angin, gemercik air, memecah lika-liku kelokan dalam menyusuri sunyi keheningan kelam. Menjanjikan satu sinar pemecah mimpi panjang..

...rindu...

..jikalau kata rindu tak cukup pantas memanifestasikan malam, kan kucipta hal yang jauh lebih dramatis untuk melukisnya...."



29 Januari 2013

Kaderisasi KM-ITB

Ketika selesai menjalankan amanah sebagai Menteri Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) KM-ITB periode 2012-2013, saya sering mendapatk...